Rabu, 12 Oktober 2011

Comatose

Sebagian dari jiwaku tak berhenti menangis, sebagian lagi terus tertawa terbahak.
Sebagian dari diriku ingin berkhianat dari kehidupan, sebagian lagi harus tetap bertahan.
Meski seisi dunia ini tak menginginkanku untuk tinggal, Tuhan tak memanggilku lebih awal.










































                                                                                          "I hate my self, and I want to die."  (2.47 am)
                                                                                                                               

Sabtu, 10 September 2011

Lapar yang?

Padahal masih baaaaanyak hal-hal yang bisa ditulis selain ini. Tapi saya sedang tak ingin menulis yang lain. Jadi, hmm… apa kabar? Lebaran memang sudah berlalu dan tahun ini adalah kali kedua saya berlebaran sendiri tanpa keluarga. Kali pertama 2009 lalu saat saya tengah sibuk menyusun skripsi, dan mengingat tenggat waktu saat itu, rasanya mustahil untuk pulang. Sekarang? Sekarang mmm… Tidak ada alasan sama sekali sesungguhnya. Hanya saja memang tak ada kesempatan untuk dapat berkumpul bersama keluarga karena saya sudah di Bandung. Itu saja. Tak ada yang aneh bukan? Tapi, well yeah… Bagi Indonesia berlebaran sendiri tetap saja anomali (-_-“!)

Nah, karena tidak mengikuti yang “banyak”, maka sudah barang tentu ada konsekuensi-konsekuensi yang harus saya tanggung sendiri. Dan saya paham betul itu, sebab pernah mengalami. Maka sehari atau dua hari menjelang lebaran, biasanya saya akan berbelanja makanan dan minuman di supermarket, membeli voucher-voucher  pulsa (termasuk pulsa internet), dan menyewa sebanyak mungkin buku dan film sebagai persiapan di dalam “bunker” (oh, menyenangkan sekali menyebutnya “bunker”!) dan jreeeeeng… Jika semua itu telah terpenuhi, saya siap “melewati” lebaran dengan tenang seakan-akan ia memang sebuah batu sandungan (:p)

Tapi lebaran tahun ini memang berbeda dan tidak sesederhana kelihatannya karena saya (tengah) miskin. Salah dua yang cukup menghibur saya adalah akses internet yang lancar jaya suprana dan stock DVD siap tonton sebanyak 18 keping yang membuat saya merasa harus menggeser kata “miskin” menjadi “nggak miskin-miskin amat”. Tapi celakanya di hari-hari menjelang lebaran itu dalam saku jeans saya memang hanya tersisa selembar uang merah. Bukan, bukan merah benderang yang saya maksud, tetapi merah yang lebih sayu alias erpe sepuluh ribu yang kemudian segera menyusut menjadi seribu. tiga ratus. rupiah. dan menyusut lagi menjadi tiga ratus. rupiah. D%mn (//\\"!)

Alhasil dalam beberapa hari itu saya harus bertahan dengan roti sandwich yang diisi belahan wafer Tanggo dan meminum air yang dimasak lewat rice cooker (Ow my goat, that was fun!) Ditambah lagi di tengah masa-masa paceklik itu, tidak diketahui dari mana datangnya, tiba-tiba saya sudah “harus” berteman dengan seekor tikus kecil berwarna hitam sebesar jari telunjuk yang kemudian saya beri nama Picky Picky. Yeah, sama halnya seperti saya, Picky Picky juga tengah kelaparan jadi saya tidak sampai hati untuk mengusirnya karena ingat salah satu sticker  yang sering nempel  di pintu angkot: “sama-sama cari makan”.

Nah, di hari yang fitri itu, karena ceritanya saya ingin sekali makan ketupat dan opor ayam, akhirnya saya “mengencani” teman sekaligus tetangga saya, Oti. Pagi-pagi sekali saya sudah mandi, berbaju rapi, dan pergi menunaikan sholat Ied bersamanya. Pulangnya, seperti perkiraan saya, saya diajak serta ke rumahnya lalu disediakan ketupat dan opor ayam oleh ibunya, plus brownies, plus sebutir apel merah yang sudah saya idam-idamkan sejak beberapa hari yang lalu. Setelah itu saya ikut Oti dan ibunya bersilaturahmi keliling gang. Demi Tuhan, hari itu saya benar-benar bahagia (hanya) karena bisa makan enak. Dan keesokan harinya, seolah paham dengan “penderitaan” saya, Oti pun datang lagi ke kamar saya dengan membawa semangkuk zupa-zupa, chicken soup, dan rujak serut bengkuang yang segar sekali. Ah, terimakasih Oti. Kamu tidak tahu betapa besar nilai itu semua di mata Tuhan (^.^)

H+3 dari lebaran saya pun keluar “kandang” dan alangkah kagetnya (saya?) ketika mendapati jalanan Bandung begitu rapat dengan mobil-mobil berplat B hingga perjalanan Dago-Setiabudhi yang biasanya dapat ditempuh selama belasan menit, kini menjadi dua jam bahkan dua setengah jam lebih. Mobil-mobil itu keluar masuk dari satu FO ke FO lainnya. Entah apa (lagi) yang mereka cari seakan-akan session  belanja Ramadhan untuk berburu baju lebaran itu tak juga cukup. Meski sama sekali tak ada hubungannya dengan mereka, entah kenapa malam itu, di tengah kemacetan kota Bandung hati saya merasa sedih dan bertanya, “Kapan hari-hari akan kembali normal, Tuhan?”

---

Sebenarnya saya sudah cukup sering mengalami masa-masa paceklik sejenis ini namun entah mengapa di usia-usia “perempatan” ini hal tersebut membuat saya lebih banyak berpikir. Barangkali memang ada yang benar-benar harus saya benahi dari sikap saya yang cenderung agak kasual terhadap keuangan. Mungkin memang sudah saatnya pula saya diinsyafkan realita. Bahwa pertanyaan, “Akankah besok saya dapat makan?” memang benar-benar harus dijawab secara real pula. Inilah, inilah yang dinamakan basic needs atau kebutuhan-kebutuhan dasar yang konyolnya baru mendapatkan perhatian saya secara serius belakangan ini saja. Dan dalam rangka memenuhi itu semua, mengapa Tuhan, saya masih saja KURANG termotivasi untuk menghasilkan banyak uang? Bahwa saya cenderung selalu merasa puas dengan kehidupan yang ada padahal jiwa dan raga saya semestinya masih dapat dikerahkan lagi untuk bekerja keras mencapai sesuatu yang jauh lebih baik dari itu. Dan ketika saya sudah cukup “berkomitmen” tentang ini, entah mengapa beberapa waktu kemudian koordinatnya tiba-tiba saja berubah, tergantikan oleh kualitas-kualitas hidup yang (lagi-lagi) saya pikir jauh lebih penting dari (hanya sekedar) uang.

 “I do agree that money can't buy happiness, But somehow, it's more comfortable to sit & cry in a BMW than on a bicycle.”

Tetapi Tuhan menyukai keseimbangan. Ada yang berlimpah bagi jiwa namun ternyata kurang adil bagi raga dan di sana saya akan tetap berdosa karena tidak memenuhi hak tubuh dan mendzalimi diri sendiri. Kondisi ini seharusnya dapat membuat saya lebih arif lagi untuk memilih, memilah, dan juga menyimpan. Mungkin saya harus mulai membiasakan menimbang, apakah Rp.50.000 itu akan saya habiskan di KFC atau di Alfamart dengan membeli sejumlah sembako bergizi yang tahan untuk beberapa hari. Yeah, konversi nilai uang terhadap segala sesuatu memang relatif, tetapi jika relativitas itu begitu leluasa, semestinya kita juga dapat memilih untuk berada di titik yang mana. Hatur nuhun Gusti, lapar kali ini lapar yang… mengajarkan.



"Ketika badanmu diberi makan, ruhmu mengharap bagian
Ketika telingamu menyimak cerita, ruhmu minta dongengan pula
Ketika hidungmu mencium harum, ruhmu pun meminta parfum

Ketika badanmu kenyang, ruhmu merasa kelaparan
Ketika badan sabar berpuasa, ruhmu menikmati kelezatan
Ketika syahwat badan dipuaskan, ruhmu merasa diabaikan

Badan adalah raga bagi ruh, sebuah ruang yang bakal rapuh
Badan adalah rumah singgah, yang bakal busuk dalam tanah
Ketika badan membusuk, kemana ruh diterbangkan?"

Bandung, 10 September 2011

(4.07 am)

Rabu, 17 Agustus 2011

MERDEKA

C H A I R I L  A N W A R

(14 Juli 1943)


Aku mau bebas dari segala
Merdeka
Juga dari Ida

Pernah
Aku percaya pada sumpah dan cinta
Menjadi sumsum dan darah
Seharian kukunyah-kumamah

Sedang meradang
Segala kurenggut
Ikut bayang

Tapi kini
Hidupku terlalu tenang
Selama tidak antara badai
Kalah menang

Ah! Jiwa yang menggapai-gapai
Mengapa kalau beranjak dari sini
Kucoba dalam mati.

---

66 tahun, Indonesia. Kau bukan lagi remaja :D

Bandung, 17 Agustus 2011

(5.37 am)


Rabu, 10 Agustus 2011

Membakar Kapal

Super hectic weeks. Minggu-minggu ini berasa jadi Harry Potter yang ber-disappear dengan portkey ke berbagai tempat. Alhasil? Sakit. Sakit kepala, tenggorokan, flu, batuk, dan demam berturut-turut yang berujung pada sinusitis meski perasaan mah Harry Potter nggak pernah terkena radang sinus. Berawal dari tanggal 19 bulan lalu ketika gw sibuk sendiri di airport ngedorong-dorong trolley segede gaban. Mengangkat dan menurunkan enam ‘buntelan’ pindahan hingga semua tiba dengan baik di kota ini sambil geli sendiri ngebayangin gimana ya rasanya kalo tiba-tiba dijemput seseorang di bandara yang dengan sigap mengulurkan kedua tangannya untuk sekedar membantu ngangkatin koper. Ahahaha… Geli. Geli karena itu semua terlalu mewah buat gw.

Tapi semua kelelahan itu terbayarkan ketika dalam perjalanan Jakarta-Bandung hujan pun turun rintik-rintik dari balik jendela bus. Kerlap-kerlip lautan lampu di malam hari mengaburkan dirinya di kejauhan seiring rinai hujan yang kian lebat. Segera saja gw nyalakan MP3 di handphone dan menenggelamkan diri dalam lautan melankolisme. Dan lalu berkecamuklah segalanya di kepala ini seperti potongan-potongan sekuen dari sebuah roman bernama hidup. Bernama masa lalu dan masa depan sebab masa kini tengah dijalani di atas putaran roda. Barangkali di situlah ajaibnya perjalanan. Kesenyapan yang mau tak mau memaksamu menyusuri lorong waktu atau hanya sekedar berbincang kecil dengan kenalan.

Masih terbayang kejadian satu hari sebelumnya dimana gw dan Alka bertengkar heboh di halaman gara-gara dia ngebikin pincang salah satu kaki anak kucing gw. Terus sama gw dikejar aja dianya sampe jauh banget dan kepalanya berhasil gw timpuk pake sendal. Terus gw balik deh ke rumah sambil nangis iingsrekan di jalan kayak anak kecil. Terus sampe sore si Alkanya nggak berani pulang karena takut sama gw sampe akhirnya dia balik dan kita baikan dan kaki anak kucingnya diurut-urut sama dia sampe sembuh.

Masih terbayang pula ketika satu jam sebelum berangkat nyokap bela-belain pergi ke pasar ngebeliin gw duren dan rela menerobos ‘keamanan’ demi nganterin gw sampe boarding. Bahkan ketika akhirnya si Mingke pulang pun nyokap masih aja kekeuh mau nemenin gw sampe pesawatnya ‘manggil’ seunah. Terus karena nyokap belum makan siang dan mengeluh lapar akhirnya gw paksa aja supaya dia mau cabut ninggalin gw (padahal mah karena gw udah nggak kuat lagi ngantongin air mata di kelopak ini). Terus pas dia udah pergi, gw nangis deh dengan tenang. Tapi beberapa menit kemudian tiba-tiba dia datang lagi dan bilang, “Tanggung ah, mamah masih pengen sama kamu.” Dan akhirnya ketauan deh sama dia kalo gw nangis. Ahaha… F! F! F!


Entah kenapa rasanya gw selalu punya hubungan yang tidak biasa dengan bandara. Jika kehidupan ini sebuah kalimat, maka bagi gw airport adalah spasi yang memberi jeda dari satu morfem ke morfem lain. Seakan ada takdir yang mengintai di baliknya. Karenanya jangan heran kalo gw selalu lebih melankolis di sana dan menghindari percakapan dengan siapapun hanya untuk menangis dengan damai di samping jendela atau sekedar melamun melihat ranting-ranting sungai yang mengecil berganti arakan awan di kejauhan.

Dan sekarang gw di sini, kembali ke kota ini entah menjemput takdir yang mana. Gw benar-benar pergi dengan sorban dililit di muka. Buta, tak melihat apa-apa selain hanya mendengar intuisi dari dalam diri bahwa gw harus segera keluar dari ‘kubangan’ diri sendiri. Tak ada manusia yang mau berlama-lama di tempat becek, begitu Mingke berkata maka begitu pulalah analoginya. Barangkali serupa itu juga perasaan Malin ketika ia hendak merantau meski pada kenyataannya gw bukanlah Malin yang sedang merantau. Gw pulang, dan entah apa yang dipijak Tuhan di sini hingga akhirnya gw kembali. Maka dari itu benarlah sabda si Mingke bahwa selama ini gw telah tersesat di gubuk sendiri entah di limbo yang mana. Bhahahaha… sh#t!

Akan tetapi sudahlah. Setiap kelokan memiliki arti tersendiri meski saat ini hidup gw tak ubahnya seperti rumah pasir yang mesti dibangun dari nol lagi. Mencoba mencari celah sesempit apapun untuk masuk kembali ke dalam lingkaran yang pernah gw tinggalkan. Menghalau kembali apa yang sempat pergi dan menanam bibit baru dengan hanya bermodalkan keyakinan dan kepercayaan akan Tuhan. Yakin bahwa setelah ini kehidupan akan menjadi lebih baik. Yakin bahwasanya Tuhan tak akan pernah menelantarkan. Demikian gw telah membakar kapal sebab sejarah tidak merangkak, ia melompat (The Black Swan).

Bandung, 10 Agustus 2011

(5.37 am)

Sabtu, 02 Juli 2011

Lalala Day...

[ s i a n g n y a ( 1 1 . 3 0 a m ) ]


[ s o r e n y a ( 4 . 3 0 p m ) ]


[ m a l a m n y a ( 9 . 3 0 p m ) ]

---
Bahagia itu sederhana…

(l.u.12.37 pm)

Selasa, 28 Juni 2011

Sayang tapi dimakan...

Anjis. Demi apapun yang ada di muka bumi ini sekarang aku lagi kesel banget sama si Alka. Dianya mah lagi sekolah tapi aaaaaaarghhh… ~!@#$%^&* Semua berawal dari kelahiran anak-anaknya si Kimmy beberapa hari yang lalu. Kelahiran yang ditunggu-tunggu banget sama kami semua di rumah karena perut si ibunya teh beneran gede pisan. Kami semua menebak-nebak anaknya nanti bakalan berapa bahkan ngadain taruhan segala yang pada akhirnya nggak satu pun dari kami yang menang karena tebakan kami berada di luar jangkauan (emang jaringan telepon?). Karena ternyata anaknya lima bukan empat seperti fakta semula. Karena keesokan harinya si ibunya teh ngegiwing satu anak lagi ke rumah. Belang tiga. Laki pula. Kayaknya mah emang sengaja disumputin dulu dan arus migrasinya ditunda sedemikian rupa demi menyelamatkan nyawa sang anak. Yeah… youknowlah mitos-mitos yang berseliweran sekaitan dengan kucing laki belang tiga.

Flashback agak jauh ke belakang, awalnya aku rada nggak percaya kalo kucing cewe paruh baya (karena Kimmy tampak jauh lebih muda) dengan muka mehong dan corak bulu awut-awutan (asli bener-bener random ini mah tapi nggak boleh diejek karena pelangi pelangi ciptaan Tuhan) itu pacarnya si Kimmy. Baru setelah aku dan Alka menyaksikan dengan mata kepala sendiri mereka berdua kawin, akhirnya aku percaya kalo mereka suami-istri. Jadi setelah kemudian dia hamil ya aku nerima aja kalo itu anaknya Kimmy. Sejak saat itulah si… (sebut saja) si Random jadi sering tinggal di rumah dan berbagi makanan bareng sama suaminya. Lagi sama si Alka si Random teh disayang pisan sampe-sampe si Kimmy agak sedikit terdiskriminasikan. Padahal mah aku tau aja kalo dia cuman lagi suka sama perutnya doang… (=_=)

Pada akhirnya aku juga jadi sayang beneran sama si Random karena dia kucing yang pasrah. Suka tidur di keset dan digulaling-gulaling gitu sama si Alka tapi nggak pernah marah. Dia benar-benar tampak seperti wanita hamil paruh baya yang sudah makan asam garam kehidupan. Jadi dia maklum aja sama tuan-tuannya yang pecicilan dan bertingkah kekanak-kanakan. Cuek aja gitu, berjalan atau berlari dengan perutnya yang gundal-gandul. Kadang suka sengaja aku kerjain gara-gara cuman pengen ngeliat gaya larinya yang nista abis. Kasian. Ditambah lagi dia teh bertanggung-jawab pisan sebagai ibu. Rajin nyusuin dan nggak pernah ninggalin anak-anaknya lebih dari 10 menit (sampe nanti kalian ngedenger sendiri fakta selanjutnya).

Nah terus semalem pas aku bangun tidur aku dikasih tau mamah kalo anaknya ada yang mati satu. Yang item favorit aku mpula (jadi pas lahir keseluruhan formasinya ada item 2, kuning 2, dan beltig 1). Berhubung itu udah malem banget jadi nggak langsung aku kubur, cuman aku keluarin aja dari dalem lemari. Terus pagi tadi tampaklah si Alka tengah beredar di sekitar lemari itu. Aku nggak tau kalo anak kucing yang udah mati itu ternyata dimasukin lagi sama dia ke dalem lemari. Mungkin dia pengen ngeliat-liat lagi untuk yang terakhir kalinya formasi lengkap seluruh anak kucing itu sebelum aku kubur untuk kemudian berangkat ke sekolah…

Sebenernya itu jasad kucing sengaja juga belum aku kuburin karena aku pengen motoin mereka semua setelah orang rumah pada pergi. Jadi aku siapinlah alasnya di kamar, nge-charge HP yang lowbatt karena motonya pake HP, dan nggak lupa juga beberapa lampu senter (ceritanya mah buat nambahin lighting effect gitu). Nah, ketika semuanya siap, aku pun keluar nyari si Kimmy lalu masuk lagi dan buka lemari. Tapi alangkah terkejutnya aku ketika kulihat di dalem lemari itu ada jasad anak kucing yang (perasaan) udah aku pisahin di luar AND GUESS WHAT??? Dengan tiisnya anak kucing itu lagi dimakan sama ibunya mulai dari buntut sampe ke perut. Aku teriak dong! Anjislah jijik pisan! Darah dimana-mana, kakinya kepisah, jeroannya keluar, dan ususnya terburai. Dosa apa aku (sehingga) pagi-pagi mesti ngeliat anak kucing buntung sebelah? Kontan aku menjauh dan nggak tau mesti ngapain. Ngenes bangetlah ngeliatnya. Udah buntung dan merah begitu masa iya aku berani maksain moto mereka di kasur walaupun mungkin bagi sebagian orang itu adalah “objek” bagus. Lalu aku ngelirik lagi alas dan kamera yang udah siap, juga senter-senter yang sudah dinyalakan… Ah ngenes nggak sih? Terus setelah beberapa detik nggak tau mesti ngapain, akhirnya aku pun ngambil bantal dan kututupin aja mukaku pake bantal lalu berjalan pelan ke arah lemari dan kututup pintunya pake kaki.

Sekarang aku jadi nggak mood ngapa-ngapain setelah beberapa jam yang lalu aku minta tolong orang lain untuk ngambilin bangkainya dan dimasukin ke keresek. Padahal rencananya aku tuh mau makan, ngopi, dan ngetik gawean. Aku kesel sama si Alka tapi percuma juga. Mungkin Tuhan lagi pengen ngingetin aku tentang betapa beruntungnya aku diciptakan sebagai manusia. Manusia yang punya akal dan hati nurani bukan sekedar naluri. Manusia loh bukan binatang. (l.u.12.57 pm)

Senin, 27 Juni 2011

Sambungan...

BRAIN  FREEZE

Mareta: Aaaaaa… brain freeze!
Adik: 98 x 99 berapa???
Mareta: What?
Ibu: Segitu mah si Kaka nggak akan bisa jawab kali nggak brain freeze juga…

HARUSNYA

Harusnya sih…
Adik: Bap, besok aku ulangan PKn. Tes aku dong!
Babap: Mana bukunya?
Adik: Nih bab 4 sampe 6
Babap: Apa itu organisasi? And go on…
Yang sebenarnya terjadi…
Adik: Bap, besok aku ulangan PKn. Tes aku dong!
Babap: Mau tes apa? Lari? Berenang? Gua jabanin!
Adik: Tes PKn ihhh, nih dari bab 4 sampe bab 6, nih bukunya
Babap: Nih kamu liat nggak gambarnya?
Adik: Iya, terus?
Babap: Kenapa anak itu tertawa?
Adik: Nggak tau…
Babap: Siapa itu Mila?
Adik: Nggak tau…
Babap: Katanya minta dites tapi nggak bisa apa-apa
Adik: (bengong)

KOLOR

Pas pulang dari Garut ngeliat ada kakek-nenek naek motor bawa bambu gede yang udah dipotong
Ibu: Itu kayaknya buat lahang
Babap: Iya itu buat bikin lahang. Bikinnya dimana ya?
Ibu: Nggak tau atuh nggak pernah lihat. Tau nggak biasanya tutupnya pake apa?
Babap: Kolor bekas
Ibu: Pelepah pisang ih
Mareta & Adik: Ih jorok amat pake kolor bekas
Ibu: Pelepah pisang iiiiih…
Babap: Iya udah bekas nggak dicuci dulu lagi
Mareta & Adik: Ih koq jorok amat sih???
Ibu: PELEPAH PISANG IIIIIH…
Mareta, Adik, Babap: (Ngeliatin ibu terus ngomongin kolor lagi)

TAUN DEPAN NGGAK USAH PUASA

Ibu: Hebaaaaat… Adik puasanya tamat…
Kakek: Iya Adik hebat, berarti tinggal puasa Syawal nanti 6 hari
Adik: Aku mah mau vegetarian aja, nggak mau puasa lagi
Kakek: Eh, puasa lagi nanti 6 hari abis lebaraaaaan…
Adik: Ngapain sih emang?
Kakek: Jadi kalo kamu puasa Ramadhannya tamat, terus puasa Syawal 6 hari nanti, pahalanya kayak kamu puasa 1 tahun
Adik: Ih asyiiiiik…
Babap: Iya Bryn jadi taun depan nggak usah puasa
Mareta: --_-

YES, ADA YANG NGANTER JEMPUT!

Mareta: A kemaren pas kamu jemput aku kata temen-temen aku kamu ganteng
Devandra: Wah masa?
Mareta: Iya beneraaaaan…
Devandra: Emang siapa aja?
Mareta: (nyebutin nama-nama)
Devandra: Sumpah?
Mareta: Eh nggak percaya!
Devandra: Ta, bilang bunda kalo kamu mau pergi-pergi aku aja yang nganter
Mareta: (teriak) Buuuuu… kata Aa kalo aku mau pergi dia aja yang nganteeeeer…
Ibu: Alhamdulillah… Bunda punya keponakan baik semua…

YA MAKANYA AJARIN NYUPIR…

Mareta: Bu, aku kan harus bubar sama charts di PVJ
Ibu: Kamu minggu ini minta uang mulu Ka…
Mareta: Nggak minta uang da yey minta anterin
Ibu: Oh tumben. Ih jam berapa? Sekaraaaaang… nanti macet. Ibu buka di jalan dong?
Mareta: Kan aku udah bilang dari kemaren
Ibu: Ibu bilang juga dari kemaren cari pacar yang pake mobil
Mareta: Jangan aneh-aneh atuh Bu, anterin aja sekarang
Ibu: Nggak ah udah sore
Mareta: Ya udah aku pinjem mobil
Ibu: Kemana? Rahmatullah???

SAHUR

Mba: Ka bangun, mau sahur nggak?
Mareta: Hah? Aku kan blablablabla… (ngomong nggak jelas, lama lagi)
Mba: (ngebanting pintu terus keluar, frustasi)
Ibu: (ngebuka pintu) Ka bangun deh, sahur!
Mareta: Ih loh aku kan blablablabla… (ngomong nggak jelas, panjang lagi)
Ibu: KAKA BANGUN! SAHUR! (teriak sambil rambutnya berubah jadi api)
Mareta: Aku kan lagi dapet
Ibu: Bilang dong dari tadi…
Nggak ada yang bisa ngerti bahasa orang tidur emang

KAPAN CARANDAS DIBAGIIN GRATIS DI PINGGIR JALAN?

Adik: Bap, kata temen aku Carandas ada yang 40 biji di Cibadak harganya nggak semahal di Gunung Agung
Babap: Oh berapa?
Adik: 375 ribu
Mareta: Mahal wow nggak setuju
Adik: Ih segitu masih lebih murah tau Kaka!!!
Babap: (tiis) Kata Kaka mahal Bryn…
Adik: Ih Babap mah Kaka aja diturutin. Jadi kapan dong aku dibeliinnya?
Babap: (masih tiis) Nanti kalo Carandas dibagiin gratisan di pinggir jalan
Mareta: (ketawa puas)

BAHASA ANAK SD -_-“

Mareta: Bu parah di atas mousenya dua-duanya Macintosh
Adik: Bikin horny ya Ka mousenya?
Mareta: What de…

HMM

Radio: Seandainya saja Gusdur masih hidup pasti blablablabla…
Adik: Loh Bu? Emang Gusdur udah meninggal?
Mareta: Aduh jaman kapan yaaaaa… kemane aje lu?
Adik: Bu beneran Gusdur udah meninggal?
Ibu: Iya adiiiiik…
Adik: Berarti Ibu Kartini juga udah meninggal dong? Aaaaaah sial…
Mareta & Ibu: Hmm…

BOHOOOOOOONG

Adik: Ka, aku waktu di Singapur ketemu Ayasa
Mareta: Dimana? Aku nggak liat ah
Adik: Iya tau di MRT
Mareta: Ih iya gitu Kaka nggak liat
Adik: Aku juga nggak liat
Mareta: Loh? Koq aneh?
Adik: Nggak anehlah, kan Ayasa liat aku terus di sekolah bilang
Mareta: Ooh… koq nggak nyapa sih dia?
Adik: Iya soalnya dianya malu
Mareta: …
Adik: BOHOOOOOOONG DEEEEEEENG… HUAHUAHUAHUAHUAHAHA…
Mareta: Ah! I knew it! Kamu nggak mau liat mata aku pas ngomong!!!
(caps lock artinya dia teriak dengan heboh dan sangat freak) 

TANTE AKU YANG KAKINYA KECIL

Bune: VNC itu? (sambil nunjuk kado dari Manda)
Mareta: Iya
Bune: Wah kenapa dipajang di meja gini?
Mareta: Nggak cukup, kado dari orang sih…
Bune: Sayang…
Mareta: Iya sayang tuh masih new arrival
Bune: Buat Bune aja ya… (sambil nyobain)
Mareta: Enak aja, itu kado dari Manda
Bune: Kan nggak cukup… Daripada dipajang mending dikasih ke orang yang lebih membutuhkan
Mareta: Ya tapi aku nggak mau ngasih. Lagian masa dikasihin? Nggak enak sama yang ngasih…
Bune: Yeh bukan gituuu… Bilang dong ke yang ngasihnya, nggak cukup gitu, mending dikasihin ke tante aku yang kakinya kecil
Mareta: --_-
[]
[]
Ya ampuuuuun… Jadi kangen banget Bandung… T_T

(l.u.2.07 am)