Rabu, 06 April 2011

Liquory (1)

Namanya Liquory, tapi cukup panggil ia “Lee” karena ia senang dipanggil demikian. Ada sesuatu yang Lee tidak suka dari dirinya. Sesuatu yang ganjil, aneh, dan tidak biasa bagi se… bagi se… bagi air. Karena tidak seperti air-air yang lain, Lee tidak diberkahi gravitasi. Ia tidak bisa mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Tidak menguap, mengembun, ataupun membeku. Tidak mampu membawa partikel-partikel kecil seperti debu. Tidak juga memiliki kapilaritas terhadap benda berpori apalagi menyatu dengan minyak. Benar-benar tidak berguna bagi kehidupan, meskipun tidak membahayakan…

Itulah sebabnya Lee selalu melayang-layang seperti hantu. Gentayangan kesana-kemari. Padahal sama seperti yang lain, ia pun tercipta dari senyawa dua atom hidrogen yang terikat secara kovalen pada satu atom oksigen. Sama-sama H2O. Tapi takdir berkata lain. Tuhan menginginkan Lee menjadi ‘alien', sesuatu yang berada di luar lingkaran,"march to a different drummer"

---

Menurut gosip yang beredar, konon ayah Lee adalah air hujan yang menetes dari langit-langit kamar yang bocor. Pada suatu malam ketika hujan turun dengan lebatnya, air tersebut menetes tepat di atas sebuah cangkir berisi air teh. Di sanalah untuk pertama kali ayah dan ibu Lee bertemu.

Tak ada ‘seorang’ pun yang mau berteman dengan Lee karena ia cacat dan aneh. Setiap kali ia mencoba menjalin sebuah hubungan, pertemanan itu selalu gagal dan berakhir dengan permusuhan. Tak ada yang mampu bertahan bersamanya. Karena itulah Lee tumbuh menjadi air penyendiri, air yang terbuang yang tak pernah percaya pada tulusnya persahabatan…

Seringkali ia merasa iri pada air-air yang lain, entah itu air di bak mandi, air selokan, air kencing, hingga air mani. At least mereka semua kembali, membentuk siklus yang sempurna, dari awan turun ke gunung dari gunung ke muara. At least  mereka semua jujur, dari nama ke wujud dari wujud ke rupa dari rupa ke sifat dari sifat ke rasa. Mereka semua pintar, pintar menyesuaikan diri, pintar menyelesaikan persoalannya sendiri…

Tak jarang mereka yang sempurna itu mengejek Lee. Seperti yang sering dilakukan sekaleng Coca-Cola  dan sebotol cuka. Mereka berdua amat bangga terhadap kaleng dan botolnya seperti manusia terhadap mobil dan rumahnya. Mereka bilang, air yang tertahan adalah air yang rusak dan bahwa air hanya akan jernih jika mengalir. Tetapi seperti biasa Lee diam saja. Memangnya apa yang bisa ia lakukan?

--

Lee sudah bosan mengetuk pintu-pintu yang tak pernah menunggunya pulang. Adakalanya ia menangis sendirian meratapi nasibnya itu. Kepada pantai ia suarakan keluh-kesahnya. Bahwa menjadi tak bertepi seperti itu begitu mengganggu. Bahwa dalam keadaan demikian, kerapkali ia merasa terancam oleh dirinya sendiri. Pantai yang merasa iba dan kasihan pun lantas meminta maaf kepada Lee karena tak bisa membantunya sama sekali. Karena sudah ada samudera yang juga mesti ia jaga…

Hari itu Lee merasakan dirinya amat letih. Letih menerima tapi tak kunjung memberi. Letih membendung energinya sendirian tanpa pernah bisa berbagi. Ia sendiri tak mengerti, entah mengapa ia selalu saja disibukkan oleh sesuatu yang ia cintai daripada sesuatu yang ia benci. Telah lama ia biarkan dirinya tersangkut-sangkut gelombangnya sendiri. Tersesat dalam ketenangan yang palsu; becek dan menjijikkan. Hari itu ia sadar bahwa ia butuh landasan yang kuat untuk 'melesat' dan entah pada bumi yang mana akan ia temui pijakan itu nanti…

Hari itu Lee jujur sejujur-jujurnya kepada diri sendiri. Bahwa ia…

Memang…

Butuh…

-

r u a n g .
-
(l.u.11.27 pm)